Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)

Assalamualaikum wr wb, selamat malam sobat,selamat maulid nabi, kali ini saya akan membagikan tentang"Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atas (Pimpinan/Leader)"
(foto:ini alasan mengapa bawahan takut sama atasan (pimpinan/leader)
Pasti semua manusia hidup kadang diatas dan kadang dibawah, dan menurut artikel yang berjudul "Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)" dikutip dari akun line love islam.Pasti atasan selalu benar dan bawahan takut sama pimpinan.

Dan kali ini coba simak artikel  "Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atas an (Pimpinan/Leader)" yang selengkapnya dibawah ini:

Setiap orang di anugrahi oleh Tuhan rasa berani dan rasa takut,...
Rasa berani itu bisa indah dan menawan jika implementasi keberaniannya dilakukan pada tempat dan waktunya yang tepat.

Sedangkan rasa takut itu sah sah saja, jika memang sikon yang mendukung untuk takut...
Namun untuk tulisan ini hanya di bahas tentang ketakutan bawahan kepada atasan terkait dengan pekerjaan.
 
Pekerjaan di berbagai organisasi, instansi, atau lebih lebih di birokrasi.
Sebenarnya ada perbedaan nyata rasa takut di instansi, organisasi atau birokrasi (PNS), namun pembahasan ini hanya secara menyeluruh, terkait perasaan takut yang berlebih pada atasannya di instansi atau birokrasi (PNS)....

Sebelum di uraikan secara detail, perlu kiranya harus sejujurnya hati ber 'kata' jika dalam tulisan ini mengena atau menyinggung perasaan karena kebenarannya maka hati dan mulut harus bilang memang begitu, tapi kalau belum tepat biarkan saja, toh juga salah....
Kebenaran untuk mengungkap "jati diri penyebab rasa takut" bawahan pada atasan justru akan memotivasi, mencerahkan dan memberikan pembelajaran untuk lebih "memerdekaan", untuk lebih intropeksi diri agar jiwa ini tidak " terjajah dan terkungkung" dengan kepura puraan bilang biasa, padahal dalam implementasi kesehariannya betapa "dag dig duq" hati, ....
 
Bergetar takut, hingga ciut nyalinya" dan membuat jiwa dan sikap nya yang penuh ke pura puraan (hipokrite) yang penting ber prinsip "slamet dan langgeng" demi "masa depan, demi ke langsungan hidup" demi cita cita, demi diri dan keluarga, demi lingkungan sekitarnya dll"
Boleh dan sah sah saja, karena itu adalah salah satu "jurus pengelak" bentuk untuk survive, untuk 'tidak mau susah' , tidak mau malu bin dipermalukan, ogah mlarat, emoh sengsara dlsb.


 Walaupun sejujurnya apa yang di lakukan ini adalah bukan kata hati yang sebenarnya.
OK, jadi intinya mereka (bawahan/staf/karyawan/prajurit/orang (gol) kecil) itu takut (penakut) kepada atasannya (Boss/pimpinan/kadis/manajer/Team leader dlsb) ada 2 sebab, yaitu takut dikarenakan faktor internal (dalam diri) dan takut di sebabkan oleh faktor eksternal (di luar dirinya).

Untuk penyebab bawahan takut dengan atasan yang disebabkan oleh faktor internal adalah :

1. Jiwa orang tersebut memang lemah, atau sering populernya di katakan cemen (banci)

Dalam hatinya sejak awal memang memiliki jiwa penakut, dan ini memang 'sulit' untuk di upgrade agar mereka memiliki sifat berani...
Yang ada dalam lubuk hatinya adalah penakut, bahkan saking takutnya ia tidak bisa membedakan mana yang berani itu, yang ada adalah rasa dag dig duq terus jika berhadapan dengan atasannya..
Jangan di paksa untuk berubah, karena jiwanya memang sejak dari dulu adalah penakut...

2. Perasaan lebih mendominasi dari pikiran, yang menyebabkan 'over toleran' yang penting tidak menyakiti/membuat susah atasan.

Jiwa semacam ini tidak sama dengan cemen (seperti poing no.1), namun mereka memang memiliki jiwa yang terlalu perasa hingga ia sulit untuk memiliki kepribadian,...toleran kepada atasan terlalu over, sehingga terkesan selalu membela atasan atau cari muka, cari selamat dengan tidak akan mau menentang setiap keputusan atasannya.

Ciri atau karakter bawahan semacam ini bukan milik perempuan saja, tapi bisa juga laki laki. Sehingga dalam sikapnya nampak takut dan memang yang sebenarnya adalah penakut.

3. Berbagai macam faktor yang kadang tidak bisa di urai secara detail dan rinci, karena saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, mulai dari pengaruh sifat emosional hati, IQ yang zik zak, SQ yang rendah, EQ yang pembimbang/paragu, watak witak diri apakah sakit atau sehat namun masih dominannya hal, yang bercampur dengan lingkungan sekeliling maupun lingkungan di luar yang semuanya itu menjadi perpaduan buat penyebab rasa takut, attitude yang memble, dlsb.

Sebenarnya faktor faktor internal dari penyebab mereka takut karena faktor internal masih ada, tapi sudah saya ringkas (kemas) di point no.3 yang akan bisa mewakili dari hal hal yang sekiranya masih ada.

Sedangkan faktor fakto r eksternal (diluar dirinya) tentu sangat besar pengaruhnya...
Namun juga perlu di garis bawahi jika faktor eksternal ini akan terkait dengan faktor internal, begitu pula sebaliknya, faktor internal (dalam jiwanya yang penakut misal) akan sangat mendukung untuk lebih menjadi penakut dengan adanya faktor eksternal yang mendorong orang untuk menjadi takut.
 
Sehingga faktor internal dan eksternal yang menyebabkan bawahan penjadi penakut kepada atasannya adalah saling kait mengkait satu dengan yang lainnya.
Faktor eksternal ini bukan an sich faktor di luar saja, namun masih bersinggungan dengan faktor internal (khususnya terkait dengan jiwa dan hati).

 Faktor faktor eksternal penyeban bawahan takut pada atasan adalah ;

1. Takut sumber penghasilan berhenti atau di berhentikan...
 
Faktor inilah yang paling besar dan banyak mempengaruhi seseorang menjadi penakut kepada atasannya,...karena atasannya berhak menilai, berhak menjustifikasi, berhak memberhentikan, berhak apa saja terkait dengan kewenangan atasan kepada bawahan.

Sumber penghasilan adalah derap hidupnya....
Sumber pendapatan adalah sebagian ruh jiwanya....
Sumber perolehan untuk melangsungkan hidup adalah apa yang ia pegang dan rengkuh untuk citra diri, untuk harga diri, untuk bersandar dan pegangan kehidupannya...
Maka jangan sekali kali lepas kata sang "penakut" yang hanya bertumpu satu di sinilah sumber kehidupannya.

2. Lingkungan luar yang "dilihatnya" tidak mendukung apabila tidak memperoleh penghasilan dari pekerjaan saat ini yang di lakukannya.

Takut di anggap miskin, takut tidak bisa naik kepangkatannya karena ada sanksi dari atasan, takut di pindah di lokasi yang jauh dan "kering", di blacklist, di jebloskan ke permasalahan hukum, di jebak, di jerat, di benci, di musuhi dlsb, oleh atasan sehingga karier atau dirinya akan susah karenanya.

Khusus PNS sebagai birokrasi, tentu ketakutan kepada " atasannya" akan lebih banyak dan nampak, apalagi jika mereka juga sudah menduduki di level pemimpin, sehingga harus tunduk dan patuh kepada atasannya....jika tidak kondite dan berbagai sanksi akan menghampirinya.

3. Presure dari atasan karena sistem atau karena peraturan atau adanya perubahan suatu rezim, tertentu.

Kebijakan kebijakan atau peraturan tertentu akan menjadikan seseorang 'terikat oleh sistem' dan tidak tersadari jika ini menyebabkan rasa takut semakin membelenggu.
Sadar maupun setengah sadar jika adanya peraturan itu akan mengikat, apalagi mulai dari dulu kronologis sejarah dari tahun ke tahun tradisi ini terus di pegang dan di patuhi oleh semua yang ada, maka dengan sendirinya bawahan akan semakin terikat untuk lebih menjadi takut.

Bukti nyata dan konkrit yang kecil saja, tidak beraninya mengkritik atau sekedar memberi masukan atasannya jika salah,... baik dalam lisan apalagi tulisan.

Ia akan membeo dan lemah serta menjilat apa saja yang tidak beresiko jika pimpinannya marah, ia tidak berani menatap tegak dan mengacungkan tangan untuk menegur atau protes saat atasannya emosi dalam berbagai pidato di pertemuan pertemuan...
Ia (bawahan) akan silent dan ber prinsip yang penting selamat, walaupun terus terang jujur jika ia sebenarnya terlecehkan....
 
Ia ber prinsip, yang penting masih dapat penghasilan...yang penting aman, yang penting nanti bisa naik kariernya, dan tidak selamanya bertemu dengan dia, suatu saat akan berubah...dlsb.

4. Cinta Dunia dan Takut Mati, ini adalah perpaduan antara faktor internal dan eksternal, yang intinya memang itu adalah nilai ruh dalam jiwa,,..bisa di kelabui lewat ucapan tapi bagi yang peka nampak tahu dari perilaku....
 
Saat ia sangat cinta pada pekerjaannya dari pada TuhanNya di "jamin" akan menjadi penakut jika "sumber penghasilannya putus".
Ia akan sangat takut pada Atasannya, seolah ialah yang memberi rezeki, bahkan secara implisit maupun eksplisit ia (atasan) adalah yang bisa menyambung kehidupannya dan lebih lebih akan bisa memberi bantuan terhdap kesejahteraannya.

Hidup ini seolah indah terus jika penghasilan nya lancar dan boss (atasan) mencintai, karena boss lah hidup ini, selalu enak, karena atasan senang maka hidup 'pasti makmur' dan ogah jika miskin maupun sengsara gara gara boss tersinggung perasaannya....
dia tidak akan mau jika pembicaraannya menyangkut kematian, karena yang di rasa adalah ingin kaya, hidup nikmat di dunia, di puja puja oleh keluarganya, temannya maupun tetangganya. 

Jika karakter ini kuat pada dirinya " setuju maupun ogah di katakan setuju" bila ia adalah memiliki jiwa penakut pada atasannya.

Sebenarnya masih ada yang harus di uraikan tentang faktor faktor eksternal penyebab bawahan takut pada atasannya...

Tapi.....
Uraian ini sudah "cukup" untuk memberikan gambaran mengapa bawahan "takut" pada atasannya,.....
Jika merasa 'tersinggung' itu justru yang mengena, jika biasa biasa saja, kemungkinan jiwa anda lebih baik karena anda lebih merdeka dan tidak termasuk dari hal ini...
Bangunlah badannya.....
Bangunlah jiwanya.....
Untuk Jiwa jiwa yang merdeka.


Mungkin masih banyak lagi dari "Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)" kapan-kapan saya lanjutkan dengan artikel yang lebih bagus dan bermanfaat. Semoga bermanfaat untuk kalian dan saya semoga mendapatkan pahala yang mengalir

Wasallamualaikum wr wb , selamat malam dan terimakasih sudah membaca artikel saya yang berjudul "
Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)"


EmoticonEmoticon