Ikhlas
termasuk indikator kesempurnaan agama Islam, sifat bagi pemilik derajat yang
tinggi, dan syarat diterimanya suatu amal shalih di sisi Allah.
Ikhlas
bermakna menetapkan tujuan amal perbuatan sebelum mengerjakannya. Ikhlas adalah wujud memasang niat dalam beramal
shalih demi mengharap wajah Allah semata.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya
setiap amal tergantung kepada niat, dan setiap orang memperoleh apa yang ia
niatkan.”
Begitu besar
pengaruh niat terhadap amal. Ibnul Mubarak mengatakan:
“Berapa
banyaknya amal kecil yang menjadi besar nilainya karena niat. Dan berapa
banyaknya amal besar yang menjadi kecil nilainya karena niat.”
Suatu amal
yang terlihat besar seperti haji/sedekah harta dalam jumlah yang besar, bisa
saja tidak bernilai di sisi Allah karen niat yang tidak ikhlas. Sebaliknya,
amal yang tampaknya sepele seperti menyingkirkan duri dari jalan, atau sekadar
memberi senyuman saat bertemu kawan, bisa saja sangat bernilai di sisi Allah
karena niat yang ikhlas.
Sudah
selayaknya orang muslim memperhatikan niat bagi setiap amal perbuatannya
sehari-hari. Hendaknya ia memasang niat yang baik sebisa mungkin, sehingga
semua aktivitas yang ia lakukan menjadi catatan pahala baginya.
Contohnya: Fulan tidur cepat dengan niat agar bisa bangun pada akhir malam guna mengerjakan shalat Tahajud dan keesokan harinya badan menjadi segar untuk mengerjakan ibadah dan memikul semua tanggung jawab.
Fulan makan dengan niat agar badannya menjadi sehat dan kuat, sehingga bisa mengerjakan amal shalih. Fulan mandi dengan niat agar badannya menjadi bersih dan sehat sehingga bergairah/bersemangat dalam melaksanakan kewajiban.
Demikian
selanjutnya. Dengan niat yang shalih ini niscaya aktifitas seseorang yang hukum
asalnya mubah bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Apalagi amal-amal yang hukum
asalnya mubah bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Apalagi amal-amal yang hukum
asalnya sunnah dan wajib.
Niat yang
lurus dan ikhlas ini sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan seorang insan, di
dunia maupun di akhirat. Keberkahan akan senantiasa menyertai langkah seseorang
yang memiliki niat demikian.
Sebaliknya,
niat yang tidak baik, niat yang tidak ikhlas, ataupun niat yang hanya
semata-mata mengejar duniawi, maka akan menghambat langkah seseorang
Anas R.A.W
meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwa suatu ketika beliau bersabda di hadapan
kami, para Sahabat:
“Barangsiapa
menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam
hatinya, Allah akan memudahkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam
keadaan tunduk dan hina. Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuannya,
niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan terpampang di hadapan matanya, Allah
akan menjadikan urusannya berantakan, dan ia tidak akan memperoleh dunia
kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.”
Maka jangan
lupa, pasanglah niat yang ikhlas semata-semata untuk mengejar pahala akhirat
niscaya Allah memudahkan urusan kita di dunia dan nantinya di akhirat.
referensi:buku panduan amal sehari semalam:Umum Ihsan& Abu Ihsan al-Atsari
EmoticonEmoticon