Mutiara Hadits Jumat 25 Desember 2015

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi sobat,selamat hari jumat, kali ini saya akan membagikan tentang"Mutiara Hadits Jumat 25 Desember 2015
Foto:Mutiara Jumat 25 Desember 2015




Liburan sekolah tak terasa, waktu kian cepat,sekarang sudah menunjukkan hari jum'at, merupakan hari raya nya orang muslim, kini saya akan membagikan mutiara hadis yang dikutip dari lembaran al-islam edisi 785 yang berjudul "Mutiara Hadits Jumat 25 Desember 2015"  

Dan kali ini coba simak artikel  "Mutiara Hadits Jumat 25 Desember 2015" yang selengkapnya dibawah ini:


"Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan apa yang memurkakan Allah, maka orang-orang yang tadinya memuji akan berobah mencelanya. Namun barangsiapa mengutamakan ketaatan kepada Allah, meskipun berakibat orang-orang menjadi marah kepadanya maka cukuplah Allah yang menjadi penolong dan pembelanya dalam menghadapi permusuhan tiap musuh, kedengkian tiap pendengki dan kezaliman tiap orang zalim. (HR. Aththusi)"

Mungkin masih banyak lagi dari "Mutiara Hadits Jumat 25 Desember 2015" kapan-kapan saya lanjutkan dengan artikel yang lebih bagus dan bermanfaat. Semoga bermanfaat untuk kalian dan saya semoga mendapatkan pahala yang mengalir
  

Wasallamualaikum wr wb , selamat pagi dan terimakasih sudah membaca artikel saya yang berjudul "Mutiara Hadits Jumat 25 Desember 2015 "

Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)

Assalamualaikum wr wb, selamat malam sobat,selamat maulid nabi, kali ini saya akan membagikan tentang"Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atas (Pimpinan/Leader)"
(foto:ini alasan mengapa bawahan takut sama atasan (pimpinan/leader)
Pasti semua manusia hidup kadang diatas dan kadang dibawah, dan menurut artikel yang berjudul "Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)" dikutip dari akun line love islam.Pasti atasan selalu benar dan bawahan takut sama pimpinan.

Dan kali ini coba simak artikel  "Ini Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atas an (Pimpinan/Leader)" yang selengkapnya dibawah ini:

Setiap orang di anugrahi oleh Tuhan rasa berani dan rasa takut,...
Rasa berani itu bisa indah dan menawan jika implementasi keberaniannya dilakukan pada tempat dan waktunya yang tepat.

Sedangkan rasa takut itu sah sah saja, jika memang sikon yang mendukung untuk takut...
Namun untuk tulisan ini hanya di bahas tentang ketakutan bawahan kepada atasan terkait dengan pekerjaan.
 
Pekerjaan di berbagai organisasi, instansi, atau lebih lebih di birokrasi.
Sebenarnya ada perbedaan nyata rasa takut di instansi, organisasi atau birokrasi (PNS), namun pembahasan ini hanya secara menyeluruh, terkait perasaan takut yang berlebih pada atasannya di instansi atau birokrasi (PNS)....

Sebelum di uraikan secara detail, perlu kiranya harus sejujurnya hati ber 'kata' jika dalam tulisan ini mengena atau menyinggung perasaan karena kebenarannya maka hati dan mulut harus bilang memang begitu, tapi kalau belum tepat biarkan saja, toh juga salah....
Kebenaran untuk mengungkap "jati diri penyebab rasa takut" bawahan pada atasan justru akan memotivasi, mencerahkan dan memberikan pembelajaran untuk lebih "memerdekaan", untuk lebih intropeksi diri agar jiwa ini tidak " terjajah dan terkungkung" dengan kepura puraan bilang biasa, padahal dalam implementasi kesehariannya betapa "dag dig duq" hati, ....
 
Bergetar takut, hingga ciut nyalinya" dan membuat jiwa dan sikap nya yang penuh ke pura puraan (hipokrite) yang penting ber prinsip "slamet dan langgeng" demi "masa depan, demi ke langsungan hidup" demi cita cita, demi diri dan keluarga, demi lingkungan sekitarnya dll"
Boleh dan sah sah saja, karena itu adalah salah satu "jurus pengelak" bentuk untuk survive, untuk 'tidak mau susah' , tidak mau malu bin dipermalukan, ogah mlarat, emoh sengsara dlsb.


 Walaupun sejujurnya apa yang di lakukan ini adalah bukan kata hati yang sebenarnya.
OK, jadi intinya mereka (bawahan/staf/karyawan/prajurit/orang (gol) kecil) itu takut (penakut) kepada atasannya (Boss/pimpinan/kadis/manajer/Team leader dlsb) ada 2 sebab, yaitu takut dikarenakan faktor internal (dalam diri) dan takut di sebabkan oleh faktor eksternal (di luar dirinya).

Untuk penyebab bawahan takut dengan atasan yang disebabkan oleh faktor internal adalah :

1. Jiwa orang tersebut memang lemah, atau sering populernya di katakan cemen (banci)

Dalam hatinya sejak awal memang memiliki jiwa penakut, dan ini memang 'sulit' untuk di upgrade agar mereka memiliki sifat berani...
Yang ada dalam lubuk hatinya adalah penakut, bahkan saking takutnya ia tidak bisa membedakan mana yang berani itu, yang ada adalah rasa dag dig duq terus jika berhadapan dengan atasannya..
Jangan di paksa untuk berubah, karena jiwanya memang sejak dari dulu adalah penakut...

2. Perasaan lebih mendominasi dari pikiran, yang menyebabkan 'over toleran' yang penting tidak menyakiti/membuat susah atasan.

Jiwa semacam ini tidak sama dengan cemen (seperti poing no.1), namun mereka memang memiliki jiwa yang terlalu perasa hingga ia sulit untuk memiliki kepribadian,...toleran kepada atasan terlalu over, sehingga terkesan selalu membela atasan atau cari muka, cari selamat dengan tidak akan mau menentang setiap keputusan atasannya.

Ciri atau karakter bawahan semacam ini bukan milik perempuan saja, tapi bisa juga laki laki. Sehingga dalam sikapnya nampak takut dan memang yang sebenarnya adalah penakut.

3. Berbagai macam faktor yang kadang tidak bisa di urai secara detail dan rinci, karena saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, mulai dari pengaruh sifat emosional hati, IQ yang zik zak, SQ yang rendah, EQ yang pembimbang/paragu, watak witak diri apakah sakit atau sehat namun masih dominannya hal, yang bercampur dengan lingkungan sekeliling maupun lingkungan di luar yang semuanya itu menjadi perpaduan buat penyebab rasa takut, attitude yang memble, dlsb.

Sebenarnya faktor faktor internal dari penyebab mereka takut karena faktor internal masih ada, tapi sudah saya ringkas (kemas) di point no.3 yang akan bisa mewakili dari hal hal yang sekiranya masih ada.

Sedangkan faktor fakto r eksternal (diluar dirinya) tentu sangat besar pengaruhnya...
Namun juga perlu di garis bawahi jika faktor eksternal ini akan terkait dengan faktor internal, begitu pula sebaliknya, faktor internal (dalam jiwanya yang penakut misal) akan sangat mendukung untuk lebih menjadi penakut dengan adanya faktor eksternal yang mendorong orang untuk menjadi takut.
 
Sehingga faktor internal dan eksternal yang menyebabkan bawahan penjadi penakut kepada atasannya adalah saling kait mengkait satu dengan yang lainnya.
Faktor eksternal ini bukan an sich faktor di luar saja, namun masih bersinggungan dengan faktor internal (khususnya terkait dengan jiwa dan hati).

 Faktor faktor eksternal penyeban bawahan takut pada atasan adalah ;

1. Takut sumber penghasilan berhenti atau di berhentikan...
 
Faktor inilah yang paling besar dan banyak mempengaruhi seseorang menjadi penakut kepada atasannya,...karena atasannya berhak menilai, berhak menjustifikasi, berhak memberhentikan, berhak apa saja terkait dengan kewenangan atasan kepada bawahan.

Sumber penghasilan adalah derap hidupnya....
Sumber pendapatan adalah sebagian ruh jiwanya....
Sumber perolehan untuk melangsungkan hidup adalah apa yang ia pegang dan rengkuh untuk citra diri, untuk harga diri, untuk bersandar dan pegangan kehidupannya...
Maka jangan sekali kali lepas kata sang "penakut" yang hanya bertumpu satu di sinilah sumber kehidupannya.

2. Lingkungan luar yang "dilihatnya" tidak mendukung apabila tidak memperoleh penghasilan dari pekerjaan saat ini yang di lakukannya.

Takut di anggap miskin, takut tidak bisa naik kepangkatannya karena ada sanksi dari atasan, takut di pindah di lokasi yang jauh dan "kering", di blacklist, di jebloskan ke permasalahan hukum, di jebak, di jerat, di benci, di musuhi dlsb, oleh atasan sehingga karier atau dirinya akan susah karenanya.

Khusus PNS sebagai birokrasi, tentu ketakutan kepada " atasannya" akan lebih banyak dan nampak, apalagi jika mereka juga sudah menduduki di level pemimpin, sehingga harus tunduk dan patuh kepada atasannya....jika tidak kondite dan berbagai sanksi akan menghampirinya.

3. Presure dari atasan karena sistem atau karena peraturan atau adanya perubahan suatu rezim, tertentu.

Kebijakan kebijakan atau peraturan tertentu akan menjadikan seseorang 'terikat oleh sistem' dan tidak tersadari jika ini menyebabkan rasa takut semakin membelenggu.
Sadar maupun setengah sadar jika adanya peraturan itu akan mengikat, apalagi mulai dari dulu kronologis sejarah dari tahun ke tahun tradisi ini terus di pegang dan di patuhi oleh semua yang ada, maka dengan sendirinya bawahan akan semakin terikat untuk lebih menjadi takut.

Bukti nyata dan konkrit yang kecil saja, tidak beraninya mengkritik atau sekedar memberi masukan atasannya jika salah,... baik dalam lisan apalagi tulisan.

Ia akan membeo dan lemah serta menjilat apa saja yang tidak beresiko jika pimpinannya marah, ia tidak berani menatap tegak dan mengacungkan tangan untuk menegur atau protes saat atasannya emosi dalam berbagai pidato di pertemuan pertemuan...
Ia (bawahan) akan silent dan ber prinsip yang penting selamat, walaupun terus terang jujur jika ia sebenarnya terlecehkan....
 
Ia ber prinsip, yang penting masih dapat penghasilan...yang penting aman, yang penting nanti bisa naik kariernya, dan tidak selamanya bertemu dengan dia, suatu saat akan berubah...dlsb.

4. Cinta Dunia dan Takut Mati, ini adalah perpaduan antara faktor internal dan eksternal, yang intinya memang itu adalah nilai ruh dalam jiwa,,..bisa di kelabui lewat ucapan tapi bagi yang peka nampak tahu dari perilaku....
 
Saat ia sangat cinta pada pekerjaannya dari pada TuhanNya di "jamin" akan menjadi penakut jika "sumber penghasilannya putus".
Ia akan sangat takut pada Atasannya, seolah ialah yang memberi rezeki, bahkan secara implisit maupun eksplisit ia (atasan) adalah yang bisa menyambung kehidupannya dan lebih lebih akan bisa memberi bantuan terhdap kesejahteraannya.

Hidup ini seolah indah terus jika penghasilan nya lancar dan boss (atasan) mencintai, karena boss lah hidup ini, selalu enak, karena atasan senang maka hidup 'pasti makmur' dan ogah jika miskin maupun sengsara gara gara boss tersinggung perasaannya....
dia tidak akan mau jika pembicaraannya menyangkut kematian, karena yang di rasa adalah ingin kaya, hidup nikmat di dunia, di puja puja oleh keluarganya, temannya maupun tetangganya. 

Jika karakter ini kuat pada dirinya " setuju maupun ogah di katakan setuju" bila ia adalah memiliki jiwa penakut pada atasannya.

Sebenarnya masih ada yang harus di uraikan tentang faktor faktor eksternal penyebab bawahan takut pada atasannya...

Tapi.....
Uraian ini sudah "cukup" untuk memberikan gambaran mengapa bawahan "takut" pada atasannya,.....
Jika merasa 'tersinggung' itu justru yang mengena, jika biasa biasa saja, kemungkinan jiwa anda lebih baik karena anda lebih merdeka dan tidak termasuk dari hal ini...
Bangunlah badannya.....
Bangunlah jiwanya.....
Untuk Jiwa jiwa yang merdeka.


Mungkin masih banyak lagi dari "Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)" kapan-kapan saya lanjutkan dengan artikel yang lebih bagus dan bermanfaat. Semoga bermanfaat untuk kalian dan saya semoga mendapatkan pahala yang mengalir

Wasallamualaikum wr wb , selamat malam dan terimakasih sudah membaca artikel saya yang berjudul "
Alasan Mengapa Bawahan Takut Sama Atasan (Pimpinan/Leader)"

40 Manfaat dan Kelebihan Dzikrullah (Mengingat Allah) Bagian 1

Assalamualaikum wr wb, selamat malam sobat, maaf saya jarang update dikarenakan urusan dunia, kali ini saya akan memberikan artikel tentang "40 Manfaat dan Kelebihan Dzikrullah (Mengingat Allah) Bag 1"

Didalam dzikrullah terdapat kurang lebih dari 40 buah manfaat/kelebihan antara lain: 


1.Membuat Allah Yang Maha Rahman ridha
2.Mengusir syaithan
3.Menghilangkan kesedihan dan kegelisahan
4.Menguatkan hati dan badan
5.Menerangi hati dan raut wajah

6.Mendatangkan rezeki/rizki 
7.Menghasilkan wibawa dan manis muka
8.Mewariskan ma'rifah, penyerahan dan kedekatan kepada Allah serta hidupnya hati
9.Makanan pokok bagi hati dan ruh
10.Memperjelas tindakan hati (suara hati)

11.Mengahapus segala dosa
12.Meninggikan derajat
13.Memperbaharui semangat jiwa
14.Meninggikan derajat
15.Memastikan rasa ketenangan jiwa

16.Memastikan limpahan rahmat 
17.Memastikan lingkupan Malaikat
18.Menyibukan diri dengan ucapan dan perkataan yang penting
19.Membahagiakan diri dan orang-orang yang bersamanya
20.Menjaga diri dari kerugian pada hari kiamat.

21.Mendatangkan perlindungan Allah SWT
22.Memudahkan diri menangis karena takut kepada Allah
23.Menghasilkan karunia dan pahala yang berlimpah dari Allah
24.Merupakan ibadah yang paling mudah dan afdhal
25.Merupakan tanaman yang membuahkan surga


26.Menjaga diri agar tidak lupa kepada Allah
27.Menjaga diri agar tidak meremehkan ibadah
28.Memberikan kemudahan di setiap keadaan
29.Cahaya bagi seorang hamba di dunia dan alam kuburnya
30.Cahaya bagi seorang hamba di alam mahsyar


31.Cahaya bagi amal dan perkataan

32.Pangkal pertolongan dan jalan untuk mencapainya
33.Menghilangkan kesepian hati
34.Mengingatkan hati yang 'tertidur'
35.Membuahkan ma'rifah


36.Menciptakan suasana yang luhur dan mulia

37.Meraih kesenangan dan kegembiraan
38.Mewariskan cinta kepada Allah yang merupakan inti agama islam
39.Menyelamatkan diri dari adzab allah
40.Melenyapkan kegelisahan hati


Mungkin masih banyak lagi dari "40 Manfaat dan Kelebihan Dzikrullah (Mengingat Allah) Bag 1" kapan-kapan saya lanjutkan bagian 2. Semoga bermanfaat untuk kalian dan saya semoga mendapatkan pahala yang mengalir 

Wasallamualaikum wr wb , selamat malam dan terimakasih sudah membaca artikel saya yang berjudul "40 Manfaat dan Kelebihan Dzikrullah (Mengingat Allah) Bag 1"

Inilah Hak-Hak Tauhid


Berbahagialah seorang muslim yang dapat menunaikan hak-hak Rabbnya.  Dia mengakui kebodohan atas dirinya, mengakui keburukan perbuatan yang dia lakukan, mengakui aib pribadinya, mengakui kelalaiannya dalam memenuhi hak Allah SWT. 

Sehingga, jika Allah SWT menghukumnya di dunia karena dosa-dosanya, ia sadar betul bahwa hukuman itu semata-mata karena keadilan-Nya. 
Adapun jika Allah tidak menghukumnya karena dosa-dosa tersebut, maka dia juga menyadari bahwa itu semata-mata karena kemurahan-Nya.

Orang itu juga menyadari bahwa kebaikan yang diperbuatnya semata-mata merupakan karunia dan sedekah (anugerah) dari –Nya. Jika Allah menerima amalnya itu, maka yang demikian merupakan karunia dan sedekah yang lain lagi untuknya; sedangkan jika Allah menolaknya, dia menganggap (kualitas) amalnya itu memang belum patut ditujukan kepada-Nya.

Apabila orang itu melakukan suatu perbuatan dosa, hal itu diyakininya sebagai akibat jauhnya dia dari Rabbnya sehingga dia mengabaikannya dan tidak menjaganya lagi. 
Orang tersebut menyadari bahwa semua itu merupakan salah satu perwujudan keadilan Allah bagi dirinya, sehingga dia pun merasa butuh terhadap Rabbnya dan merasa telah menzhalimi diri sendiri.

Kalaupun Allah mengampuni dosanya, maka itu semata-mata karena kebaikan dan kemurahan-Nya.

Inti permasalahan ini: “Hamba yang mampu menunaikan hak-hak Rabbnya akan memandang Rabbnya selalu berbuat baik kepadanya; dan sebaliknya, dia memandang dirinya selalu berbuat buruk, lalai, dan suka menyepelekan. Dengan perspektif tersebut, dia menyadari bahwa segala hal yang membahagiakannya semata-mata merupakan karunia dan kebaikan dari Rabbnya, sedangkan segala hal yang menyedihkannya tidak lain karena dosa-dosanya dan itulah wujud keadilan Allah terhadap dirinya.


Dengan sikap sikap seperti itu, apabila hamba yang mencintai Allah melihat orang-orang yang mereka mencintai meninggal, dia akan berdoa: “Semoga Allah memberikan anugerah kepada roh-roh yang menghuni jasad-jasadnya.” 

Demikian pula seorang yang dikasihi Allah; meskipun jasadnya telah bertahun-tahun berkalang tanah, dia akan mengingat betapa indahnya (buah) ketaatannya kepada Rabbnya di dunia.

 Dia juga akan mengingat kasih sayang-Nya kepada dirinya, serta mengingat rahmat dan anugerah-Nya kepada roh yang dahulu mendiamit tubuh yang telah hancur itu.


referensi: buku Fawaidul Fawaid: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah 

Ketaatan Kepada Allah Akan Menetramkan Jiwa Dan Raga

3 Ketaatan Kepada Allah Yang Akan Menetramkan Jiwa Dan Raga yaitu sebagai berikut:


1. Pentingnya Menautkan Hati Hanya Kepada Allah

Hikmah tauhin yang tersirat pada pembahasan sebelumnya ialah hati tidak akan tenang,tenteram, dan damai kecuali dengan tersambung dan sampai kepada Allah. Kecintaan dan keinginan terhadap sesama makhluk tidak boleh ditujukan kepada dzatnya. 

Karena , tidak ada yang boleh diinginkan dan dicintai karena dzatnya kecuali Allah, dan segala sesuatu pasti akan berpulang kepada-Nya. Mustahil jika segala sesuatu berakhir kepada dua dzat berbeda, sebagaimana mustahilnya penciptaan makhluk oleh dua dzat berbeda.

Maka itu, siapa saja yang kecintaan, keinginan, kehendak, dan ketaatannya ditujukan kepada selain Allah, niscaya semua itu akan sia-sia dan lenyap begitu saja, bahkan orang tersebut akan ditinggalkan oleh sesuatu yang paling dibutuhkannya. 

Sebaliknya, siapa saja yang cinta, harapan, dan kecemasannya hanya ditujukan kepada Allah SWT, niscaya ia akan mendapatkan keuntungan abadi berupa kenikmatan, kelezatan, kebahagiaan, dan keberkahan dari-Nya

2. Aturan di balik Perintah dan musibah

Seorang hamba Allah tidak akan terlepas dari perintah dan musibah dari-Nya. Ia membutuhkan, bahkan sangat membutuhkan, pertolongan-Nya ketika menerima perintah sedangkan ketika mendapatkan musibah, ia membutuhkan uluran kasih sayang-Nya.

Kasih sayang yang ia dapatkan ketika ditimpa musibah sebanding dengan kadar perintah Allah yang dikerjakannya. Jika dia melaksanakan perintah itu secara sempurna, lahir dan batin, niscaya ia akan mendapatkan kasih sayang secara lahir dan batin. 

Akan tetapi, jika perintah itu dilaksanakan dalam bentuk lahirnya saja, tanpa mencakup hakikatnya, niscaya ia hanya akan memperoleh kasih sayang secara lahiriah, namun sedikit sekali kasih sayang secara batin yang diraihnya. 

3. Kasih sayang secara batin 
Apabila Anda bertanya: “Seperti apakah kasih sayang secara batin yang diperoleh hamba ketika ditimpa musibah?” maka kami jelaskan sebagai berikut. Kasih sayang secara batin adalah sesuatu yang akan menciptakan ketenangan dan kedamaian, serta menghilangkan keresahan, kegundahan, dan keluh kesah dari hati hamba ketika tertimpa musibah.

Pada kondisi demikian, seorang hamba akan merendahkan diri di hadapan Rabbnya dengan penuh rasa hina, memandang-Nya dengan hatinya, dan bersimpuh kepada-Nya dengan segenap jiawanya. Pengakuan terhadap kasih sayang Allah telah menyibukkan dirinya dari kepedihan deritanya. 

Keyakinannya tentang kebaikan takdir Allah membuatnya tidak merasakan lagi pahit musibahnya. Ia pun menyadari kalau dirinya semata-mata seorang hamba yang—suka atau tidak suka—mesti menjalani takdir Rabbnya. Jika ridha akan hal itu, niscaya ia akan mendapatkan keridhaan-Nya. 

Namun, jika ia tidak ridha, maka kemurkaan-Nyalah yang akan diperolehnya.

Kasih sayang secara batin ini merupakan buah dari mu’amalah bathiniyah (keshalihan batin yang disebutkan sebelumnya). Semakin shalih batinnya, semakin berkurang keshalihan batinnya, maka semakin berkurang kasih sayang sayang secara batin yang diraihnya.

referensi: buku Fawaidul Fawaid: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah 


Niat Yang Ikhlas

Ikhlas termasuk indikator kesempurnaan agama Islam, sifat bagi pemilik derajat yang tinggi, dan syarat diterimanya suatu amal shalih di sisi Allah.
         
Ikhlas bermakna menetapkan tujuan amal perbuatan sebelum mengerjakannya. Ikhlas adalah wujud memasang niat dalam beramal shalih demi mengharap wajah Allah semata.








Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung kepada niat, dan setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.”

Begitu besar pengaruh niat terhadap amal. Ibnul Mubarak mengatakan:

“Berapa banyaknya amal kecil yang menjadi besar nilainya karena niat. Dan berapa banyaknya amal besar yang menjadi kecil nilainya karena niat.”


              Suatu amal yang terlihat besar seperti haji/sedekah harta dalam jumlah yang besar, bisa saja tidak bernilai di sisi Allah karen niat yang tidak ikhlas. Sebaliknya, amal yang tampaknya sepele seperti menyingkirkan duri dari jalan, atau sekadar memberi senyuman saat bertemu kawan, bisa saja sangat bernilai di sisi Allah karena niat yang ikhlas.

Sudah selayaknya orang muslim memperhatikan niat bagi setiap amal perbuatannya sehari-hari. Hendaknya ia memasang niat yang baik sebisa mungkin, sehingga semua aktivitas yang ia lakukan menjadi catatan pahala baginya.

Contohnya: Fulan tidur cepat dengan niat agar bisa bangun pada akhir malam guna mengerjakan shalat Tahajud dan keesokan harinya badan menjadi segar untuk mengerjakan ibadah dan memikul semua tanggung jawab. 

Fulan makan dengan niat agar badannya menjadi sehat dan kuat, sehingga bisa mengerjakan amal shalih. Fulan mandi dengan niat agar badannya menjadi bersih dan sehat sehingga bergairah/bersemangat dalam melaksanakan kewajiban.

Demikian selanjutnya. Dengan niat yang shalih ini niscaya aktifitas seseorang yang hukum asalnya mubah bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Apalagi amal-amal yang hukum asalnya mubah bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Apalagi amal-amal yang hukum asalnya sunnah dan wajib.

Niat yang lurus dan ikhlas ini sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan seorang insan, di dunia maupun di akhirat. Keberkahan akan senantiasa menyertai langkah seseorang yang memiliki niat demikian.

Sebaliknya, niat yang tidak baik, niat yang tidak ikhlas, ataupun niat yang hanya semata-mata mengejar duniawi, maka akan menghambat langkah seseorang

Anas R.A.W meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwa suatu ketika beliau bersabda di hadapan kami, para Sahabat:
  
Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, Allah akan memudahkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk dan hina. Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan terpampang di hadapan matanya, Allah akan menjadikan urusannya berantakan, dan ia tidak akan memperoleh dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.”



Maka jangan lupa, pasanglah niat yang ikhlas semata-semata untuk mengejar pahala akhirat niscaya Allah memudahkan urusan kita di dunia dan nantinya di akhirat.

referensi:buku panduan amal sehari semalam:Umum Ihsan& Abu Ihsan al-Atsari

Mutiara Jumat


“Hadis riwayat Abdullah bin Mas'ud ra.., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali satu di antara tiga perkara ini: Seorang yang telah kawin lalu berzina, seorang yang membunuh jiwa orang lain, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jemaah.”  (Shahih Muslim No.3175)

referensi:buku al-islam

Ber-Islam Secara Kaffah


Disadari atau tidak, akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) diterapkan dan mendominasi kehidupan kaum Muslim termasuk negeri ini. Dengan sekularisme, Agama Islam hanya diberlakukan dalam urusan pribadi dan individu, urusan keyakinan, dan hanya ibadah normal.


Hukum-hukum Islam boleh dipercayai, dipelajari dan dikaji dalam kajian akademis dan keilmuan, namun tidak diambil dan diterapkan. Jelas banget, itu merupakan perilaku yang dilarang kelas oleh Allah SWT dalam firman-Nya Q.S Al-Baqarah [2]:85.

Kaum Muslim tidak boleh berislam setengah-setengah, namun harus penuh total. Allah SWT memerintahkan kaum Mukmin dalam surah: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu udkhuluu fii alssilmi kaaffatan walaa tattabi’uu khuthuwaatialsysyaythaani innahu lakum ‘aduwwun mubiinun
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”(Q.S. al-Baqarah [2]:208).
                     As-Sa’idi menjelaskan, “Ini adalah perintah dari Allah SWT untuk kaum Mukmin agar mereka masuk Islam secara kaffah, yakni ke dalam seluruh syariah agama tanpa meninggalkan sedikitpun syariahnya; juga agar mereka tidak menjadikan hawa nafsunya maka diamalkan dan jika menyalahi hawa nafsunya maka ditinggalkan.”
Masuk ke dalam Islam secara kaffah adalah dengan mengambil dan mengamalkan syariah Islam secara totalitas. Ini merupakan tuntutan keimanan karena Allah SWT serukan kepada kaum Mukmin.                   

Dari sinilah pentingnya menegakkan Khilafah ar-Rasyidah. Pasalnya, selain merupakan kewajiban sebagaimana yang disepakati oleh seluruh mazhab Islam, menegakkan Khilafah ar-Rasyidah yang menerapkan syariah Islam secara menyeluruh akan mewujudkan perintah Allah SWT untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah.
Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
referensi:buku al-islam