Berbahagialah
seorang muslim yang dapat menunaikan hak-hak Rabbnya. Dia mengakui kebodohan atas dirinya, mengakui
keburukan perbuatan yang dia lakukan, mengakui aib pribadinya, mengakui
kelalaiannya dalam memenuhi hak Allah SWT.
Sehingga, jika Allah SWT menghukumnya
di dunia karena dosa-dosanya, ia sadar betul bahwa hukuman itu semata-mata
karena keadilan-Nya.
Adapun jika Allah tidak menghukumnya karena dosa-dosa
tersebut, maka dia juga menyadari bahwa itu semata-mata karena kemurahan-Nya.
Orang itu
juga menyadari bahwa kebaikan yang diperbuatnya semata-mata merupakan karunia
dan sedekah (anugerah) dari –Nya. Jika Allah menerima amalnya itu, maka yang
demikian merupakan karunia dan sedekah yang lain lagi untuknya; sedangkan jika
Allah menolaknya, dia menganggap (kualitas) amalnya itu memang belum patut
ditujukan kepada-Nya.
Apabila orang
itu melakukan suatu perbuatan dosa, hal itu diyakininya sebagai akibat jauhnya
dia dari Rabbnya sehingga dia mengabaikannya dan tidak menjaganya lagi.
Orang
tersebut menyadari bahwa semua itu merupakan salah satu perwujudan keadilan
Allah bagi dirinya, sehingga dia pun merasa butuh terhadap Rabbnya dan merasa
telah menzhalimi diri sendiri.
Kalaupun Allah mengampuni dosanya, maka itu
semata-mata karena kebaikan dan kemurahan-Nya.
Inti
permasalahan ini: “Hamba yang mampu menunaikan hak-hak Rabbnya akan memandang
Rabbnya selalu berbuat baik kepadanya; dan sebaliknya, dia memandang dirinya
selalu berbuat buruk, lalai, dan suka menyepelekan. Dengan perspektif tersebut,
dia menyadari bahwa segala hal yang membahagiakannya semata-mata merupakan
karunia dan kebaikan dari Rabbnya, sedangkan segala hal yang menyedihkannya
tidak lain karena dosa-dosanya dan itulah wujud keadilan Allah terhadap
dirinya.“
Dengan sikap
sikap seperti itu, apabila hamba yang mencintai Allah melihat orang-orang yang
mereka mencintai meninggal, dia akan berdoa: “Semoga Allah memberikan anugerah
kepada roh-roh yang menghuni jasad-jasadnya.”
Demikian pula seorang yang
dikasihi Allah; meskipun jasadnya telah bertahun-tahun berkalang tanah, dia
akan mengingat betapa indahnya (buah) ketaatannya kepada Rabbnya di dunia.
Dia
juga akan mengingat kasih sayang-Nya kepada dirinya, serta mengingat rahmat dan
anugerah-Nya kepada roh yang dahulu mendiamit tubuh yang telah hancur itu.
referensi: buku Fawaidul Fawaid: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
referensi: buku Fawaidul Fawaid: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

EmoticonEmoticon